Friday, December 30, 2011

Sudah saatnya...

Sayang, kamu tidak tahu betapa sulitnya aku memperjuangkan kamu agar tetap bertahan bersamaku..
Memperjuangkanmu?
Ya itulah kelemahanku.

12 hari yang lalu tepat dimana seharusnya kita saling mengucapkan menjadi hari dimana aku harus menginap di tempat yang sunyi, dengan sesuatu yang menancap di tangan kiri, serta jarum yang selalu menghisap darahku setiap pagi.
Lelaki tinggi besar itu hanya berkata bahwa aku tidak mempunyai penyakit yang parah, hanya saja aku tidak bisa menjaga kondisi sehingga lelahpun cepat menghampiri.

Jujur saja,
Selama kamu pergi memang pola hidupku tidak teratur.
Aku sulit tidur, setiap aku makan tidak merasakan apa-apa karena aku merasakan hati yang tidak tahu arah membentrok dengan pikiranku
Rasa itu luar biasa sehingga menutup rasa yang lain.

Aku sudah lelah untuk terus memperjuangkan ini, aku ingin mengakhiri.
Bukan karena aku menyerah, namun ada waktunya aku untuk memohon diri untuk tidak memperjuangkan hubungan ini seorang diri.

Sudah saatnya aku menutup lubang kecil di hatiku yang menciptakan sebuah lautan karena penuh terisi air
Sudah saatnya lubang kecil ini mengering karena sudah berat sehingga aku tidak mampu untuk menampungnya.
Sudah saatnya aku berkata, "tidak ada kata gembira jika aku tidak melihatmu tertawa". Bagaimanapun bahagiamu masih bahagiaku sayang, walau bahagiamu bukan bersamaku.
Sudah saatnya aku memberikanmu sayap untuk terbang di langit yang bukanku ciptakan sendiri.
Sudah saatnya, aku mengakhiri cerita tentangmu, meninggalkan keluh kesahku, membuka lembaran baru.

Doaku selalu bersamamu dengan ketiadaanmu.
Selamat tinggal....

Wednesday, December 14, 2011

Saksi

Aku senang bermain dengan saksi
Saksi dimana ia telah melihat kamu berjanji
Berjanji bahwa tidak akan mengingkari
Hingga janji itu menjadi api.

Berkali-kali pula aku memaki,
Kepada diri sendiri.
Tidak mampu untuk bersembunyi,
Tidak dapat untuk memungkiri.

Saksi bertanya,
"mengapa bisa?"
Lalu aku menjawab,
"aku tidak tahu, aku sendiri tidak ingin seperti ini."

Saksi lalu menjelaskan,
"mengapa bisa kamu berteriak seperti itu?"
Lalu aku memandang heran,
Mencoba memandangi seisi ruangan.

Saksi mencoba melanjutkan,
"suaramu itu... suara teriakanmu itu, melengking sekali..."
Aku ingin angkat suara, namun si saksi menyela,
"seperti dari hati", katanya.

Aku membeku,
Tidak dapat lagi beradu.

Sampai kapan kamu sadar?
Sampai kapan perasaan ini bersandar?
Lagi dan lagi harus bersabar,
Sampai rasa ini memudar.

Monday, December 12, 2011

Expectation:


Reality:

Untitled.

"Lembah kuturuni, bukit nan tinggi ku daki. Aduhai... Tak kunjung jumpa, mengapa hilang tak tentu rimba"
-Sore, Pergi Tanpa Pesan

"Akankah seseorang, yang ku impikan akan hadir. Raut halus, menyelimuti jantungku"
-Anda, Tentang Seseorang

"Tak mudah tuk bisa mencari rasa yang telah mati, namun asa telah menanti di dalam hati ini"
-The Adams, Hanya Kau

"Hilang sudah rasa kasih sayang, yang ada hanya percaya pada orang baru dikenal"
-The Banery, Karena Dia

"Merpati di atas dahan, menyusun sarangnya. Kukembalikan hatimu, seperti semula"
-White Shoes & The Couples Company, Senandung Maaf

Dan lalu...

...lalu kuakhiri ceritaku,
Dengan kawanmu.
Terbelenggu,
Membisu.

Entah apa yang belum lama aku dengar
Tentang kamu.
Aku diam seribu bahasa
Tidak mampu berkata.

Aku masih tidak percaya
Semudah itukah?
Di saat aku memecahkan teka-teki
Semudah itukah kamu mencari?

Mungkinkah ini hanya akalmu saja?
Meminta pertolongannya
Agar aku bisa melupakan
Dengan berbagai ucapan?

Terasa sakit, memang
Tetapi tolong jangan paksa-kan.
Tidak semudah itu, sayang
Aku tidak gamang.

Mulai sekarang
Aku tidak ingin banyak bersuara
Buang-buang tenaga
Toh, kamu tidak berdaya upaya.

Turut bahagia jika memang kamu
Sudah menemukan yang baru.
Berdoalah untukku
Agar aku bisa berlalu.

Salam untuk kawanmu
Dia yang paling sering membantu.
Berhati-hatilah,
Jangan sampai salah mengambil langkah.

Dari kawan...
Menjadi lawan.

Sunday, December 11, 2011

Pemimpi

Indahnya bermimpi,
Mencari jawaban pasti
Meski tumbuh delusi
Aku tetapi berdiri.

Awalnya aku ingin terus berlari
Menerjang semua agar kuterbangun dari mimpi
Namun selama aku tetap disini,
Aku tetap terhenti.

Mimpiku selalu indah
Karena duniaku tidak seindah mimpiku
Mimpiku juga panjang
Segala sesuatu bisa diterjang.

Tetapi kembali lagi,
Menghilangkan halusinasi
Menerima sepi
Yang terkadang datang, terkadang pergi.

Aku tetap ingin menjadi sang pemimpi
Karena itu berarti
Hilang sepi
Hilang nyeri.

Rasa muka ini ingin ditampar
Mencoba berhenti berhalusinasi
Agar sadar,
Menerima yang pasti.

Tetapi bagaimana jika
Mimpi tercipta
Lebih indah dari dunia nyata?
Kamu pilih yang mana?

Aku hanya tidak ingin hilang akal
Dan terus menyangkal.

Terjaga

Semalam aku sulit tidur,
Kerap kali-ku terbangun.
Kamu,
Tiba-tiba kamu lagi yang terlintas di otakku.

Mencoba terbangun dan bersandar
Mencoba melihat telepon genggamku,
Awalnya aku tidak mau.
Tetapi aku mendapat satu pesan,
Aku penasaran.

Dari kamu.
Ucapan selamat malam
Seperti biasa,
Namun tidak seperti biasa.

Dulu,
Setiap acap kali kamu ucapkan selamat malam
Bibirku dengan sendirinya,
Melengkungkan satu senyuman.

Aku tidak ingin membukanya
Esok pagi saja
Aku tidak ingin kamu tahu,
Aku masih terjaga.

Kemudian aku menoleh ke kanan,
Aku pandangi foto kita berdua
Yang kamu buat menarik,
Seperti kolase terbaik.

Sebenarnya aku ingin mengeluh
Dengan kamu
Lalu memelukmu,
Menepis rindu.

Jika kamu masih menganggapku sama
Seperti dulu
Mungkin aku masih punya banyak ruang,
Untuk mengerang.

Tenanglah sayang,
Selama kamu bahagia
Aku-kan baik-baik saja
Meskipun aku berkaca.

Sekarang,
...siapa peduli.

Saturday, December 10, 2011

Terlalu Dalam

Hampa disini,
Kubuka kembali cerita-cerita lamaku
Bukan berarti aku membuka luka lama juga,
Hanya ingin tahu dulu aku bagaimana.

Aku ingin tertawa,
Aku sering terluka.

Untuk kali ini
Lukaku hebat,
Luar biasa hebat.
Karena lukaku ini mampu membuang jauh-jauh lukaku yang lama.

Terlalu dalam,
Sehingga yang lama terbuang.
Dari yang tersayang,
Hingga sekejap menghilang.

Di Taman

Terkadang sendiri membuatku tenang,
Tidak untuk hari ini
Aku berjalan seharian, sendirian
Namun bayangan itu selalu datang.

Melihat burung-burung yang beterbangan di awan
Cuaca terlihat sama denganku; mendung, tidak berkawan
Namun matahari berusaha untuk menyinari
Walau terlihat enggan untuk berbagi.

Aku duduk di taman pada sore itu
Apa nama tamannya-pun aku tidak tahu.
Aku melihat seorang lelaki mengendarai sepeda bersama pujaannya,
Aku bisa melihat senyum manis di bibirnya, sungguh bahagia.

Ah!

Andai saja aku bisa merasakan apa yang dirasakan mereka
Mungkin sekarang aku tidak ada disini, tempat asing yang asal ku kunjungi.
Suasana-pun ramai.
Nah! sekarang aku sebut aku ini sendiri, atau merasa sendirian?

Lagi dan lagi...
Aku merasa sepi di kerumunan orang banyak.

Lalu aku beranjak...

Berjalan mengelilingi taman,
Melihat orang-orang sedang bercengkrama.
Sesekali aku pandangi lelaki yang sedang duduk memainkan laptopnya,
Sesekali-pun ia menoleh kepadaku, dan aku menolehkan muka.

Perasaan menyesal datang setiap kali aku melihat seorang lelaki,
Apalagi jika ia mirip sosok yang aku dambakan.
Entah karena hatiku telah dilukai
Atau karena aku masih merasa bahwa aku telah dimilikki?

Terkadang aku juga merasakan penyesalan,
Sesak.
Tidak bisa berkata,
Hingga akhirnya aku meleburkan air mata.

Sebenarnya aku tidak ingin merasakan penyesalan,
Sesal tiada artinya, bukan?
Namun walau akal pikiran sudah berusaha untuk tidak memperdulikan,
Tetap saja, hatikan merasakan.

Aku ingin setiap usahaku tidak sia-sia,
Atau tidak hilang dimakan zaman.
Karena jika aku tahu usahaku bisa membuat orang lain senang,
Aku berusaha untuk bertahan.

Namun sepertinya, semua sudah menghilang.
Gerimis-pun datang, aku segera pulang.

Rasa

Kamu tahu?
Bagaimana rasanya sudah bersusah payah mencoba, kemudian ditinggalkan begitu saja?
Bagaimana rasanya memperjuangkan sesuatu dan sekarang lenyap menjadi abu?
Bagaimana rasanya ingin memilikki, tetapi tidak ada yang peduli?
Bagaimana rasanya membanggakan tanpa dibahagiakan?

Jika kamu tahu dan kamu bisa merasakan,
Kamu akan menjadi aku.

Aku yang selalu mengira bahwa semua bisa berjalan tanpa hambatan
Aku yang selalu mengira bahwa menyimpan perasaan itu tidak melegakan
Aku yang selalu mengira bahwa kebahagiaanku sekarang tidak ada kepedihan
Aku yang selalu mengira bahwa bahagiaku itu jika ada kamu.

Aku salah,
Ya aku tahu.
Aku salah selalu mengira-kan yang tidak pasti
Aku salah selalu membuka langkah baru tetapi selalu menoleh ke masa lalu
Aku salah selalu mencoba menerka dan mempertahankan semua yang aku tahu kunci jawabannya.

Tetapi untuk bersamamu, aku tidak ingin menipu
Kamu tidak bisa mengira, ini nyata
Aku sakit, tetapi aku tidak ingin kamu merasakan.
Dan jika kamu memberiku kesempatan, biarlah waktu yang membantuku melupakan.

Aku yang merindumu,
Hazna.