Saturday, December 10, 2011

Di Taman

Terkadang sendiri membuatku tenang,
Tidak untuk hari ini
Aku berjalan seharian, sendirian
Namun bayangan itu selalu datang.

Melihat burung-burung yang beterbangan di awan
Cuaca terlihat sama denganku; mendung, tidak berkawan
Namun matahari berusaha untuk menyinari
Walau terlihat enggan untuk berbagi.

Aku duduk di taman pada sore itu
Apa nama tamannya-pun aku tidak tahu.
Aku melihat seorang lelaki mengendarai sepeda bersama pujaannya,
Aku bisa melihat senyum manis di bibirnya, sungguh bahagia.

Ah!

Andai saja aku bisa merasakan apa yang dirasakan mereka
Mungkin sekarang aku tidak ada disini, tempat asing yang asal ku kunjungi.
Suasana-pun ramai.
Nah! sekarang aku sebut aku ini sendiri, atau merasa sendirian?

Lagi dan lagi...
Aku merasa sepi di kerumunan orang banyak.

Lalu aku beranjak...

Berjalan mengelilingi taman,
Melihat orang-orang sedang bercengkrama.
Sesekali aku pandangi lelaki yang sedang duduk memainkan laptopnya,
Sesekali-pun ia menoleh kepadaku, dan aku menolehkan muka.

Perasaan menyesal datang setiap kali aku melihat seorang lelaki,
Apalagi jika ia mirip sosok yang aku dambakan.
Entah karena hatiku telah dilukai
Atau karena aku masih merasa bahwa aku telah dimilikki?

Terkadang aku juga merasakan penyesalan,
Sesak.
Tidak bisa berkata,
Hingga akhirnya aku meleburkan air mata.

Sebenarnya aku tidak ingin merasakan penyesalan,
Sesal tiada artinya, bukan?
Namun walau akal pikiran sudah berusaha untuk tidak memperdulikan,
Tetap saja, hatikan merasakan.

Aku ingin setiap usahaku tidak sia-sia,
Atau tidak hilang dimakan zaman.
Karena jika aku tahu usahaku bisa membuat orang lain senang,
Aku berusaha untuk bertahan.

Namun sepertinya, semua sudah menghilang.
Gerimis-pun datang, aku segera pulang.